konsep dasar perubahan

1. Definisi

Perubahan adalah cara keperawatan mempertahankan diri sebagai profesi dan berperan aktif dalam menghadapi era millenium III.

Pelayanan keperawatan mempunyai 2 pilhan utama yang berhubungan dengan perubahan, yaitu melakukan inovasi dan berubah atau dirubah oleh suatu keadaan/situasi.

Perawat mempunyai keterampilan dalam proses perubahan yaitu:

  1. Proses keperawatan         pendekatan dalam penyelesaian masalah yang sistematis dan konsisten dengan perencanaan perubahan
  2. Perawat mempunyai ilmu pengetahuan dan pengalaman praktek untuk bekerja secara efektif dengan orang lain.

Keperawatan sebagai profesi merupakan bagian dari masyarakat, dan akan berubah seirama dengan berubahnya masyarakat itu sendiri.

Keperawatan dapat dilihat dari berbagai aspek, antara lain keperawatan sebagai bentuk asuhan profesional Kepada masyarakat, keperawatan sebagai IPTEK, serta keperawatan sebagai kelompok masyarakat ilmuan dan kelompok masyarakat profesional.

4 hal yang diprediksi akan terjadi dan harus diantisipasi oleh profesi keperawatan, yaitu :

  1. Masyarakat berkembang         masyarakat akan lebih berpendidikan, lebih sadar akan hak dan hukum, menuntut berbagai bentuk pelayanan keperawatan, kehidupan ekonomi makin meningkat
  2. Rentang masalah kesehatan semakin melebar           sistem pemberian pelayanan keperawatan yang meluas dari tekhnologi sederhana sampai terkhnologi yang canggih
  3. IPTEK            terus berkembang harus dimanfaatkan dengan tepat guna
  4. Tuntutan profesi terus meningkat            didorong oleh perkembangan IPTEK medis, permasalahan internal pada profesi keperawatan dan era millenium III.

 

 

  1. Jenis dan proses perubahan

Perubahan dapat diklasifikasikan dalam perubahan yang direncanakan dan perubahan yang tidak direncanakan. Perubahan dalam keperawatan termasuk didalam perubahan yang direncanakan/terencana.

Perubahan terencana adalah proses dimana adanya pendapat baru yang dikembangkan, dikomunikasikan kepada semua orang walaupun akhirnya akan diterima atau ditolak. Perubahan terencana dalam proses keperawatan memerlukan pemikiran yang matang tentang keterlibatan individu atau kelompok, penyelesaian masalah, pengambilan keputusan, pengkajian dan efektifitas penggunaan keterampilan interpersonal, termasuk komunikasi, kolaborasi.

  1. Teori-teori perubahan
  2. Teori kurt lewin (1951)

3 tahap perubahan:

  1. Unfreezing (pencairan)

1)      Motivasi yang kuat untuk beranjak dari keadaan semula,

2)      Merasa perlu untuk berubah dan berupaya untuk berubah

3)      Menyiapkan diri untuk berubah atau melakukan perubahan.

  1. Moving (bergerak)

1)      Bergerak menuju keadaan baru

2)      Memahami masalah yang dihadapi dan mengetahui langkah penyelesaian yang harus dilakukan

3)      Melakukan langkah nyata untuk berubah dalam rangka mencapai tingkat/tahap baru

  1. Refreezing (pembekuan)

Telah mencapai tingkat/tahap yang baru

Tingkat baru yang dicapai harus dijaga untuk tidak mengalami kemunduran atau bergerak kembali pada tingkat/tahap semula. Perlu ada upaya untuk mendapatkan umpan balik, kritik dan kontruktif yang terus menerus dan berkelanjutan.

Menurut Lewin, perubahan terjadi apabila ada sesuatu kekuatan yang mendorong.

Faktor pendorong terjadinya perubahan

  1. Kebutuhan dasar manusia (5 kebutuhan menurut Hirarki Maslow)
  2. Kebutuhan dasar interpersonal (3 kebutuhan)

1)       Kebutuhan untuk berkumpul bersama-sama

2)      Kebutuhan untuk mengendalikan

3)      Kebutuhan untuk dikasihi, kedekatan & perasaan emosional

Faktor penghambat

  1. Mengancam kepentingan pribadi
  2. Persepsi yang kurang tepat
  3. Sebagai reaksi psikologis
  4. Toleransi untuk berubah rendah

Alasan perubahan

  1. Perubahan ditujukan untuk menyelesaikan masalah
  2. Perubahan dituju untuk membuat prosedur kerja lebih efisien
  3. Perubahan ditujukan untuk mengurangi pekerjaan yang tidak penting

 

  1. Teori Roger (1962)

5 tahapan perubahan :

  1. Awareness (kesadaran)
  2. Interest (tertarik/keinginan)
  3. Evaluasi
  4. Trial (mencoba)
  5. Aceptance (penerimaan)

 

  1. Teori Lippits (1973)

7 tahap perubahan

  1. Menentukan masalah
  2. Mengkaji motivasi dan kapasitas perubahan
  3. Mengkaji motivasi change agent dan sarana yang tersedia
  4. Menetapkan tujuan perubahan
  5. Menetapkan peran yang sesuai dilaksanakan oleh change agent
  6. Mempertahankan perubahan yang telah dimulai
  7. Mengakhiri bantuan

 

Perbandingan perubahan dari ketiga ketegori

 

LEWIN

ROGER

LIPPIT

Pencairan

 

Kesadaran

Menentukan masalah

 

Tertarik

Mengkaji motivasi,kemampuan berubah

 

Evaluasi

Mengkaji motivasi chage agent dan sarana

Bergerak

Mencoba

Menetapkan tujuan perubahan

 

 

Menetapkan peran change agent

Pembekuan

Penerimaan

Mempertahankan perubahan

 

 

Mengakhiri bantuan

 

 

  1. Strategi membuat perubahan

Strategi membuat perubahan dapat dikelompokkan menjadi 3 hal:

  1. Memiliki visi yang jelas

Visi harus disusun secara jelas,ringkas,mudah dipahami dan dapat dilaksanakan oleh setiap orang

  1. Menciptakan iklim/budaya organisasi yang kondusif setiap perubahan harus diciptakan suasana keterbukaan, kejujuran dan secara langsung.

Menurut Porter  upaya yang harus ditanamkan dalam menciptakan iklim yang kondusif adalah:

  1. Kebebasan untuk berfungsi secara efektif
  2. Dukungan dari sejawat dan pimpinan
  3. Kejelasan harapan tentang lingkungan kerja
  4. Sumber yang tepat untuk praktek yang efektif
  5. Iklim organisasi yang terbuka
  6. Sistem komunikasi yang jelas, singkat dan berkesinambungan

Komunikasi merupakan unsur yang penting dalam perubahan. Setiap orang  perlu dijelaskan tentang perubahan untuk menghindari “rumor/informasi”yang salah.

  1. Keterlibatan orang yang tepat

Perubahan perlu disusun oleh orang-orang yang kompeten.

 

 

  1. Kunci sukses strategi perubahan yang baik
    1. Mulai dari diri sendiri
    2. Mulai dari hal-hal kecil
    3. Mulailah sekarang, jangan menunggu-nunggu
Iklan

konsep komunikasi dalam manajemen keperawatan

Komunikasi merupakan unsur yang penting dalam aktivitas manajer keperawatan. Berdasarkan hasil penelitian Swansburg (1990), bahwa lebih dari 80% waktu yang digunakan manajer untuk berkomunikasi, 11% untuk membaca, 9% untuk menulis.

  1. Defenisi komunikasi

 

  1. Suatu pertukaran pikiran, perasaan, pendapat dan memberikan nasehat dimana terjadi antara dua orang atau lebih yang saling bekerjasama (Tappen,1995)
  2. Suatu seni untuk dapat menyusun dan menghantarkan suatu pesan dengan cara yag mudah sehingga orang lain dapat mengerti dan menerima.

 

  1. Fungsi komunikasi dalam organisasi

 

 

  1. Fungsi informatif

Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi (information-processing system). Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepet waktu.

  1. Fungsi regulatif

Berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi.

  1. Fungsi persuasif

Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan.

  1. Fungsi integratif

Setiap organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat dilaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik.

  1. Inovasi

Fungsi didalam perusahaan, komunikasi antar anggota, atas bawahan maupun bawahan atasan adalah untuk mendapatkan informasi baru (sesuatu yang inovatif bagi perusahaan).

  1. Sosialisasi dan perbaikan

Meliputi harga diri anggota

 

 

  1. Proses komunikasi

 Setiap komunikasi harus ada pengirim pesan, pesan dan penerima pesan. Pada proses ini melibatkan lingkungan internal dan eksternal. Lingkungan internal (nilai-nilai,kepercayaan,temperamen dan tingkat stress), lingkungan eksternal (cuaca,suhu,faktor kekuasaan dan waktu.

 Faktor internal : komunikator

Faktor eksternal

Tertulis

Verbal                                        Pesan

Non verbal

 

Faktor internal                                Komunikan

Faktor eksternal      

 

 

  1. Prinsip komunikasi manajer keperawatan

 

  1. Manajer harus mengerti struktur organisasi, termasuk pemahaman tenteng siapa yang akan kena dampak dari pengambilan keputusan yang telah dibuat.
  2. Komunikasi harus jelas , sederhana dan tepat.

Nursalam (2001) mengemukakan prinsip komunikasi seorang perawat profesional adalah CARE: Complete,Acurte,Rapid,English.

Artinya                setiap melakukan komunikasi (lisan/tulisan) dengan teman sejawat atau profesi kesehatan lain harus memenuhi ketiga unsur diatas. Profil perawat masa depan yang terpenting adalah mampu berbicara dan menulis bahasa asing, minimal bahasa inggris.

  1. Manajer harus meminta umpan balik apakah komunikasidapat diterima secara akurat, salah satu caranya                              bertanya / mengulangi pesan yang telah disampaikan.
  2. Menjadi pendengar yang baik, menerima semua informasi yang disampaikan orang lain dan menunjukkan rasa menghargai dan ingin tahu terhadap pesan yang disampaikan.

 

 

  1. Model komunikasi
    1. Komunikasi tertulis

Komunikasi tertulis digunakan untuk mencapai kebutuhan setiap individu/staf, mengkomunikasikan pelaksanaan pengelolaan.

Menurut asosiasi pendidikan  kesehatan amerika (1998) komunikasi tertulis dalam sutu organisasi meliputi:

  1. Mengetahui apa yang ingin disampaikan sebelum menulis
  2. Gunakan kata aktif
  3. Tulis kata yang sederhana, familier, spesufik dan nyata
  4. Atur isi tulisan secara sistematis
  5. Jelas

 

  1. Komunikasi secara langsung/verbal
    1. Manajer selalu mengadakan komunikasi verbal kepada atasan dan bawahan baik secara formal maupun informal.
    2. Tujuan           assertiveness. Perilaku asertif adalah suatu cara komunikasi yang memberikan kesempatan individu untuk mengekspresikan perasaannya secara langsung,jujur dan cara yang sesuai tanpa menyinggung perasaan orang lain yang diajak komunikasi.
    3. Hal yang harus dihindari           pasif,agresif.

 

  1. Komunikasi non verbal
    1. a.      Komunikasi dengan menggunakan ekspresi wajah, pergerakan tubuh, dan sikap tubuh (body language)
    2. b.      Komunikasi non verbal mengandung arti yang lebih signifikan dibandingkan dengan komunikasi verbal             komunikasi non verbal meliputi komponen emosi terhadap pesan yang diterima atau disampaikan, tetapi akan menjadi sesuatu yang membahayakan jika komunikasi non verbal diartikan salah tanpa adanya penjelasan secara verbal.
    3. c.       Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam komunikasi non verbal:

1)      Lingkungan            tempat dimana komunikasi dilaksanakan

2)      Penampilan            sesuatu yang menarik (pakaian, kosmetik)

3)      Kontak mata          memberikan makna kesediaan seseorang untuk berkomunikasi

4)      Postur tubuh (gesture)           bobot suatu pesan bisa ditunjukkan dengan menunjukan telunjuknya, berdiri atau duduk

5)      Ekspresi wajah           komunikasi yang efektif memerlukan suatu respon wajah yang setuju tehadap pesan yang disampaikan

 

          Manajer yang efektif akan melakukan komunikasi verbal dan non verbal, agar individu (atasan dan bawahan) dapat menerima pesan secara jelas.

 

  1. Komunikasi via telepon
    1. Dengan kemudahan sarana komunikasi memungkinkan manajer dapat merespon perkembangan dan masalah dalam organisasi
    2. Manajer dansemua staf harus belajar etika bertelepon, serta menghargai setiap menjawab telepon.

 

 

  1. Aplikasi komunikasi dalam asuhan keperawatan

Kegiatan keperawatan yang memerlukan komunikasi antara lain:

 

  1. Saat timbang terima (operan)
    1. Diperlukan komunikasi yang jelas tentang kebutuhan klien, intervensi yang sudah dilakukan dan yang belum, serta respon pasien
    2. Perawat melakukan timbang terima dengan berjalan bersama dengan perawat lainnya dan menyampaikan kondisi pasien secara akurat di dekat pasien

 

  1. Interview / Anamnesa
    1. Suatu komunikasi dengan tujuan tertentu untuk memperoleh data tentang keadaan pasien dan melaksanakan tindakan yang akurat
    2. Merupakan kegiatan yang selalu dilakukan oleh perawat kepada pasien pada saat pelaksanaan asuhan keperawatan

 

Prinsip yang perlu diterapkan perawat dalam komunikasi ini adalah:

1)      Hindari komunikasi yang terlalu formal atau tudak tepat. Ciptakan suasana yang hangat, kekeluargaan

2)      Hindari interupsi / gangguan yang timbul akibat lingkungan yang gaduh

3)      Hindari respon dengan kata hanya “ya dan tidak “ mengakibatkan komunikasi tidak berjalan dengan baik, perawat kelihatan kurang tertarik dengan topik yang dibicarakan dan enggan berkomunikasi

4)      Jangan memonopoli pembicaraan

5)      Hindari hambatan personal. Jika sebelum komunikasi perawat menunjukan rasa tidak senang kepada pasien, maka akan berdampak pada hasil komunikasi.

 

  1. Komunikasi melalui komputer
    1. Komputer merupakan alat komunikasi cepat dan akurat pada manajemen keperawatan saat ini
    2. Penulisan data-data pasien dalam computer akan mempermudah perawat lain dalam mengidentifikasi masalah pasien dan  memberikan intervensi yang tepat.
    3. Melalui komputer informasi-informasi terbaru cepat didapat menggunakan internet bila perawat mengalami kesulitan dalam menangani masalah pasien.

 

  1. Komunikasi tentang kerahasiaan

Perawat sering dihadapkan pada suatu dilema dalam menyimpan rahasia pasien, disatu sisi perawat membutuhkan informasi dengan menghubungkan apa yang dikatakan pasien dengan orang lain, di lain pihak perawat harus memegang janji untuk tidak menyampaikan rahasia pasien kepada orang lain.

 

  1. Komunikasi melalui sentuhan
    1. Merupakan metode dalam mendekatkan hubungan antara pasien dan perawat
    2. Sentuhan yang diberikan dapat sebagai terapi/tindakan mandiri perawat untuk mengatasi masalah pasien

 

  1. Dokumentasi sebagai alat komunikasi
    1. Dokumentasi adalah alat yang digunakan dalam komunikasi keperawatan untuk menvalidasi asuhan keperawatan, sarana komunikasi antar tim kesehatan lain dan dokumen paten dalam pemberian asuhan  keperawatan
    2. Manfaat komunikasi dalam pendokumentasian adalah:

1)      Dapat digunakan ulang untuk keperluan yang bermanfaat

2)      Mengkomunikasikan kepada perawat dan tenaga kesehatan lain tentang apa yang sudah dan akan dilakukan kepada pasien.

askep hidrosefalus

 

I. Pengertian

Hidrocephalus adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh produksi yang tidak seimbang dan penyerapan dari cairan cerebrospinal (CSF) di dalam sistem ventricular. Ketika  produksi CSF lebih besar dari penyerapan, cairan cerebrospinal terakumulasi di dalam sistem ventricular.

 
II.      Penyebab
Penyebab dari hidrosefalus adalah :
·      Kelainan bawaan (konginetal)
·      Infeksi
·      Neoplasma
·      Perdarahan.
 
III.   Jenis Hidrosefalus
·      Hidrosefalus Non Komunikan (tipe tak berhubungan ):
     Terjadinya obstruksi pada aliran cairan serebrospinal.
·      Hidrosefalus Komunikan (tipe berhubungan ) :
Kegagalan absorbsi cairan serebro spinal.
 
IV.        Patofisiologi
 
 
                
Keterangan:
·      Penyumbatan aliran CCS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam rongga subaracnoid → dilatasi ruangan CSS di atasnya (foramen Monroe, foramen Luschka dan Magendie, sisterna magna dan sisterna basalis) → Hidrosefalus
·      Pembentukan CSS yang berlebihan dengan kecepatan absorbsi yang normal → Hidrosefalus.
 
V.      Pengkajian.
A.  Anamnesa.
1.         Insiden hidrosefalus: 5,8 per 10.000 kelahiran hidup
·           Hidrosefalus dengan spinabifida terdapat kira-kira 3-4 per 1000 kelahiran hidup
·           Type hidrosefalus obstruksi terdapat  99 % kasus pada anak-anak.
2.         Riwayat kesehatan masa lalu:
·           Terutama adanya riwayat luka/trauma kepala atau infeksi serebral
3.         Riwayat kehamilan dan persalinan :
·           Kelahiran yang prematur
·           Neonatal meningitis
·           Perdarahan subaracnoid
·           Infeksi intra uterin
·           Perdarahan perinatal, trauma/cidera persalinan.
B.            Pemeriksaan Fisik
·           Biasanya adanya myelomeningocele, pengukuran lingkar kepala (Occipitifrontal)
·           Pada hidrosefalus didapatkan :
v Tanda-tanda awal:
o    Mata juling
o    Sakit kepala
o    Lekas marah
o    Lesu
o    Menangis jika digendong dan diam bila berbaring
o    Mual dan muntah yang proyektil
o    Melihat kembar
o    Ataksia
o    Perkembangan yang berlangsung lambat
o    Pupil edema
o    Respon pupil terhadap cahaya lambat dan tidak sama
o    Biasanya diikuti: perubahan tingkat kesadaran, opistotonus dan spastik pada ekstremitas bawah
o    Kesulitan dalam pemberian makanan dan menelan
o    Gangguan cardio pulmoner
v Tanda-tanda selanjutnya:
o    Nyeri kepala diikuti dengan muntah-muntah
o    Pupil edema
o    Strabismus
o    Peningkatan tekanan darah
o    Denyut nadi lambat
o    Gangguan respirasi
o    Kejang
o    Letargi
o    Muntah
o    Tanda-tanda ekstrapiramidal/ataksia
o    Lekas marah
o    Lesu
o    Apatis
o    Kebingungan
o    Sering kali inkoheren
o    Kebutaaan
C.            Pemeriksaan Penunjang
§    Skan temografi komputer (CT-Scan) mempertegas adanya dilatasi ventrikel dan membantu dalam mengidentifikasi kemungkinan penyebabnya (neoplasma, kista, malformasi konginetal atau perdarahan intra kranial)
§    Pungsi ventrikel  kadang digunakan untuk mengukur tekanan intra kranial, mengambil cairan serebrospinal untuk kultur (aturan ditentukan untuk pengulangan pengaliran).
§    EEG: untuk mengetahui kelainan genetik atau metabolik
§    Transluminasi: untuk mengetahui adanya kelainan dalam kepala
§    MRI (Magnetik Resonance Imaging): memberi informasi mengenai struktur otak tanpa kena radiasi
 
 
D.           Penatalaksanaan Medis.
          Pasang pirau untuk mengeluarkan kelebihan CSS dari ventrikel lateral kebagian ekstrakranial (biasanya peritonium untuk bayi dan anak-anak atau atrium pada remaja ) dimana hal tersebut dapat direabsorbsi           
  
VI.   Diagnosa keperawatan, Intervensi dan Rasional.
No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
 
1.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

2.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

3.
 
Risiko perubahan integritas kulit ke-pala b/d ketidak-mampuan bayi da-lam mengerakan kepala akibat pe-ningkatan ukuran dan berat kepala
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Perubahan fungsi keluarga  b/d situasi krisis (anak dalam catat fisik)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Resiko tinggi terjadi cidera b/d peningkatan tekanan intra kranial
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Tidak terjadi gangguan in-tegritas kulit.
Kriteria:
Kulit utuh, ber-sih dan kering.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Keluarga mene-rima keadaan anaknya, mam-pu menjelas-kan keadaan penderita.
Kriteria:
–  Keluarga ber-partisipasi da-lam merawat anaknya
–  Secara verbal keluarga da-pat mengerti tentang penya-kit anaknya.
 

Tidak terjadi pe-ningkatan TIK Kriteria:
Tanda vital da-lam batas nor-mal, pola nafas efektif, reflek cahaya positif, tidak tejadi gangguan kesa-daran, tidak muntah dan ti-dak kejang.
 
§  Kaji kulit kepala setiap 2 jam dan monitor terhadap area yang terte-kan
§  Ubah posisi tiap 2 jam dapat di-pertimbangkan untuk mengubah poisisi kepala se-tiap jam.
§  Hindari tidak adanya linen pa-da tempat tidur
§  Baringkan kepa-la pada bantal karet busa atau menggunakan tempat tidur air jika mungkin.
§  Berikan nutrisi se-suai kebutuhan.
 

§  Jelaskan secara rinci tentang kon-disi klien, prose-dur terapi dan prognosanya.
§  Ulangi penjelas-an tersebut  bila perlu dengan contoh bila keluarga belum mengerti
§  Klarifikasi kesa-lahan asumsi  dan misinterpretasi
§  Berikan kesem-patan keluarga untuk bertanya.

§  Observasi ketat tanda-tanda pe-ningkatan TIK
§  Tentukan skala coma
 
 
§  Hindari pema-sangan infus di kepala
§  Hindari sedasi
 
 
§  Jangan sekali-kali memijat atau memompa shunt untuk memeriksa fungsinya
 
§  Ajari keluarga mengenai tanda-tanda pening-katan TIK
 
 
§ Untuk memantau keadaan integumen kulit secara dini.
 
 
§ Untuk meningkat-kan sirkulasi kulit.
 
 
 
 
§ Linen dapat menye-rap keringat sehing-ga kulit tetap kering
§ Untuk mengurangi tekanan yang me-nyebabkan stres me-kanik.
 
 
§ Jaringan mudah nekrosis bila kalori dan protein kurang.

§ Pengetahuan dapat mempersiapkan keluarga dalam merawat penderita.
 
§ Keluarga dapat menerima seluruh informasi agar tidak menimbulkan salah persepsi
 
§ Untuk menghindari salah persepsi
 
§ Keluarga dapat mengemukakan pe-rasaannya

§ Untuk mengetahui secara dini pe-ningkatan TIK
§ Penurunan kesadar-an menandakakan adanya peningkatan TIK
§ Mencegah terjadi infeksi sistemik
 
§ Tingkat kesadaran merupakan indika-tor peningkatan TIK
§ Dapat mengakibat-kan sumbatan sehing-ga terjadi pening-katan CSS atau obtruksi pada ujung kateter di peritonial.
§ Keluarga dapat ber-patisipasi dalam pe-rawatan klien anak  hidrosefalus.
 

 

Daftar Pustaka
 
Whaley  and Wong  ( 1995 ), Nursing Care of infants and children, St.Louis : Mosby year Book
 
Doenges M.E, ( 1999), Rencana Asuhan keperawtan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien,  EGC, Jakarta
 
Lynda Juall Carpenito, ( 2000)  Buku Saku : Diagnosa Keperawatan,  Ed.8, EGC, Jakarta
 
Soetomenggolo,T.S . Imael .S , ( 1999 ), Neorologi  anak, Ikatan Dokter Indonesia, Jakarta

apgar score dalam keperawatan anak I

Apgar Score

Skor Apgar atau  nilai  ApPgar  (bahasa Inggris: Apgar score) adalah sebuah metode yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 oleh Dr. Virginia Apgar sebagai sebuah metode sederhana untuk secara cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir sesaat setelah kelahiran. Apgar yang berprofesi sebagai ahli anestesiologi mengembangkan metode skor ini untuk mengetahui dengan pasti bagaimana pengaruh anestesi obstetrik terhadap bayi.

Penilaian apgar Score dilakukan pada menit pertama setelah lahir dengan penilaian : 7-10 (beradaptasi baik), 4-6 (asfiksia ringan  hingga sedang) dan 0-3 (asfiksia berat), kemudian penilaian selanjutnya dilakukan setelah lima menit.

Skor Apgar dihitung dengan menilai kondisi bayi yang baru lahir menggunakan lima kriteria sederhana dengan skala nilai nol, satu, dan dua. Kelima nilai kriteria tersebut kemudian dijumlahkan untuk menghasilkan angka nol hingga 10. Kata “Apgar” belakangan dibuatkan jembatan keledai sebagai singkatan dari Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration (warna kulit, denyut jantung, respons refleks, tonus otot/keaktifan, dan pernapasan), untuk mempermudah menghafal.

Kriteria

Lima kriteria Skor Apgar:

 

Nilai 0

Nilai 1

Nilai 2

Akronim

Warna kulit

seluruhnya biru

warna kulit tubuh normal merah muda,
tetapi tangan dan kaki kebiruan (akrosianosis)

warna kulit tubuh, tangan, dan kaki
normal merah muda, tidak ada sianosis

Appearance

Denyut jantung

tidak ada

<100 kali/menit

>100 kali/menit

Pulse

Respons refleks

tidak ada respons terhadap stimulasi

meringis/menangis lemah ketika distimulasi

meringis/bersin/batuk saat stimulasi saluran napas

Grimace

Tonus otot

lemah/tidak ada

sedikit gerakan

bergerak aktif

Activity

Pernapasan

tidak ada

lemah atau tidak teratur

menangis kuat, pernapasan baik dan teratur

Respiration

 

Interpretasi skor

Tes ini umumnya dilakukan pada waktu satu dan lima menit setelah kelahiran, dan dapat diulangi jika skor masih rendah.

 

Jumlah skor

Interpretasi

Catatan

7-10

Bayi normal

 

4-6

Agak rendah

Memerlukan tindakan medis segera seperti penyedotan lendir yang menyumbat jalan napas, atau pemberian oksigen untuk membantu bernapas.

0-3

Sangat rendah

Memerlukan tindakan medis yang lebih intensif

Jumlah skor rendah pada tes menit pertama dapat menunjukkan bahwa bayi yang baru lahir ini membutuhkan perhatian medis lebih lanjut,  tetapi belum tentu mengindikasikan akan terjadi masalah jangka panjang, khususnya jika terdapat peningkatan skor pada tes menit kelima. Jika skor Apgar tetap dibawah 3 dalam tes berikutnya (10, 15, atau 30 menit), maka ada risiko bahwa anak tersebut dapat mengalami kerusakan syaraf jangka panjang. Juga ada risiko kecil tapi signifikan akan kerusakan otak. Namun demikian, tujuan tes Apgar adalah untuk menentukan dengan cepat apakah bayi yang baru lahir tersebut membutuhkan penanganan medis segera; dan tidak didisain untuk memberikan prediksi jangka panjang akan kesehatan bayi tersebut.

Akronim

Sekitar sepuluh tahun setelah diperkenalkan oleh Dr. Virgina Apgar, akronim APGAR dibuat di Amerika Serikat sebagai alat bantu menghafal: Appearance, Pulse, Grimace, Activity, dan Respiration (warna kulit, denyut jantung, respons refleks, tonus otot/keaktifan, dan pernapasan). Alat bantu hafal ini diperkenalkan pada tahun 1963 oleh dokter anak Dr. Joseph Butterfield. Akronim yang sama juga digunakan di Jerman, Spanyol, dan Perancis.

Kata Apgar juga dibuatkan kepanjangan American Pediatric Gross Assessment Record.

Tes ini juga telah direformulasikan dengan singkatan yang berbeda How Ready Is This Child, dengan kriteria yang pada dasarnya sama: Heart rate, Respirotary effort, Irritability, Tone, dan Color (denyut nadi, pernapasan, reaksi refleks, sikap, dan warna).

konsep perencanaan dalam manajemen keperawatan

  1. Defenisi

Perencaan merupakan fungsi organik manajemen yang merupakan dasar atau titik tolak dan kegiatan pelaksaan kegiatan tertentu dalam usaha mencapai tujuan organisasi.

Perencanaan tenaga keperawatan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain lingicungan (external change), keputusan , organisasi yang dapat berbentuk pensiun, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan kematian. Perencaan ketenagaan merupakan suatu proses yang kompleks, yang memerlukan ketelitian dalam menerapkan jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan dalam mencapai tujuan organisasi

 

  1. Prinsip perencanaan

Menurut siagian (19983), perencaan yang baik harus memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Mengetahui sifat atau ciri suatu rencana yang baik yaitu:
    1. Mempermudah tercapainya tujuan organisasi karena rencana merupakan suatu keputusan yang menentukan kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka mencapai tujuan.
    2. Dibuat oleh orang-orang yang mengerti organisasi
    3. Dibuat oleh orang yang sungguh-sungguh mendalami teknik perencaan
    4. Adanya suatu perencanaan yang teliti,yang berarti rencana harus di ikuti oleh program kegiatan terinci
    5. Tidak boleh terlepas dari pemikiran pelaksanaan, artinya harus tergambar bagaimana rencana tersebut dilaksanakan.
    6. Bersifat sederhana, yang berarti disusun secara sistematis dan prioritasnya jelas terlihat.
    7. Bersifat luwes, yang berarti bisa diadakan penyesuaian bila ada perubahan
    8. Terdapat tempat pengambilan risiko karena tidak  ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang
    9. Bersifat praktis, yang berarti bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi organisasi
    10. Merupakan prakiraan atau peramalan atas keadaan yang terjadi.

 

  1. Memandang proses perencanaan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang harus dijawab dengan memuaskan menggunakan pendekatan 5W1H

What              kegiatan apa yang harus dijalankan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah

                       disepakati?

Where            dimana kegiatan akan dilakukan?

When           kapan kegiatan tersebut akan dilakukan?

Who             siapa yang harus melaksanakan kegiatan tersebut?

Why           mengapa kegiatan tersebut perlu dilaksanakan?

How            bagaimana cara melaksanakan kegiatan tersebut kearah pencapaian tujuan?

 

  1. Memandang proses perencanaan sebagai suatu masalah yang harus diselesaikan dengan menggunakan teknik ilmiah, artinya harus disusun dengan cara sistematis dan didasarkan pada langkah sebagai berikut:
    1. Mengetahui sifat hakiki dan masalah yang dihadapi
    2. Mengetahui data yang akurat sebelum menyusun rencana
    3. Menganalisis dan menginterpretasi data yang telah terkumpul
    4. Menetapkan data alternatif pemecahan masalah
    5. Melaksanakan rencana yang telah tersusun
    6. Memilih cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah
    7. Menilai hasil yang telah dicapai

 

  1. Tipe-tipe perencaan
    1. Berdasarkan luasnya
      1. Strategic; rencana yang berlaku bagi organisasi secara keseluruhan, menjadi sasaran umum organisasi tersebut, dan berusaha menetapkan organisasi tersebut kedalam lingkungannya
      2. Operasional; rencana yang memerinci detail cara mencapai sasaran menyeluruh
    2. Berdasarkan karangka waktu
      1. Jangka panjang
      2. Jangka pendek
    3. Berdasarkan kehususan
      1. Pengarahan; rencana yang fleksibel dan yang menjadi pedoman umum
      2. Pemerinci;  rencana yang mendefenisikan dengan jelas dan tidak memberuang untuk penafsiran
    4. Berdasarkan frekuensi
      1. Sekali pakai; rencana yang digunakan satu kali saja yang yang secara kusus dirancang untuk memenuhi kebutuhan situasi yang unik
      2. Terus menerus; rencana yang berkesinambungan yang menjadi pedoman bagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang

 

  1. Tujuan perencanaan
    1. Standar pengawasan
    2. Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya
    3. Mengetahui siapa saja yang terlibat mendapatkan kegiatan yang sistematis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan
    4. Meminimalkan kehgiatan yang tidak produktif
    5. Menyerasikan dan memadukan beberapa sub kegiatan
    6. Mendeteksi hambatan kesulitan yang bakal ditemui
    7. Mengarahkan pada pencapaian tujuan

 

  1. Manfaat perencanaan
    1. Standar pelaksanaan dan pengawasan
    2. Pemilihan alternatif terbaik
    3. Penyusunan skala perioritas
    4. Menghemat pemanfaatan sumber daya organisasi
    5. Membantu manajer menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan
    6. Alat memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait
    7. Alat meminimalkan pekerjaan yang tidak pasti

 

  1. Perencaan tenaga keperawatan

Perencanaan tenaga atau staffing merupakan salah satu fungsi utama seorang pemimpin organisasi,termasuk organisasi keperawatan. Keberhasilan suatu organisasi salah satunya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Hal ini berhubungan erat dengan bagaimana seorang pimpinan merencanakan ketenangan di unit kerjanya.

Langkah perencanaan tenaga keperawatan menurut Drucicter dan Gillies(1994) meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi bentuk dan beban pelayanan keperawatan yang diberikan
  2. Menentukan kategori perawat yang akan ditugaskan untuk melaksanakan pelayanan keperawatan
  3. Menentukan jumlah masing-masing kategori perawat yang dibutuhkan
  4. Menerima dan menyaring untuk mengisi posisi yang ada
  5. Menentukan tenaga perawat sesuai dengan unit atau shif
  6. Melakukan seleksi calon-calon yang ada
  7. Memberikan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas pelayanan keperawatan

Penentuan tenaga keperawatan dipengaruhi oleh keinginan untuk menggunakan tenaga keperawatan yang sesuai. Untuk lebih akuratnya dalam perencanaan tenaga keperawatn, maka pimpinan keperawatan harus mempunyai keyakinan tertentu dalam organisasinya,seperti:

  1. Rasio antara perawat dan klien di dalam perawatan intensif adalah 1:1 atau 1:2;
  2. Perbandingan perawat ahli dan terampil di ruang medical bedah, kebidanan, anak dan psikiatri adalah 2:1 atau 3:1
  3. Rasio antara perawat dan klien san shif pagi atau sore adalah 1:5 untuk malam hari di ruang rawat dan lain-lain 1:10

Jumlah tenaga terapil ditentukan oleh tingkat ketergantungan klien. Menurut Abdullah & Levine (1965) dalam Gillies (1994), seharusnya dalam suatu unit ada 55% tenaga ahli dan 45% tenaga terampil.

 

  1. Perkiraan kebutuhan tenaga

Penetapan jumlah tenaga keperawatan harus disesuaikan dengan kategori yang akan dibutuhkan untuk asuhan keperawatan klien disetiap unit.

Kategori perawatan klien:

  1. a.      Perawatan mandiri (self cae), yaitu klien memerlukan bantuan  minimal dalam melakukan tindakan keperawatan dan pengobatan.
  2. b.      Perawat sebagai (partial care), yaitu klien memerlukan bantuan sebagai dalam tindakan keperawatan dan pengobatan tertentu
  3. c.       Perawatan total (total care), yaitu klien memerlukan bantuan secara penuh dalam perawatan diri dan memerlukan observasi secara ketat.
  4. Perawatan intensif (intensive care), yaitu klien memerlukan observasi dan tindakan keperawatan yang terus menerus.

Cara menentukan jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk setiap unit sebagai berikut:

  1. Rasio perawat klien disesuaikan dengan standar perkiraan jumlah klien sesuai data sensus
  2. Pendekatan teknik industri, yaitu identitas tugas perawat dengan menganalisis alur kerja perawat atau work flow rata-rata frekuensi dan waktu kerja ditentukan dngan data sensus klien, dihitung untuk menentukan jumlah perawat yang dibutuhkan
  3. System  approach staffing atau pendekatan sistem ketenangan dapat menentukan jumlah optimal yang sesuai dengan kategori perawat untuk setiap unit serta mempertimbangkan komponen input-proses-outpon-umpan balik.

asuhan keperawatan penyakit rinitis

1 Pengertian

Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005 )

Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 )

Rhinitis adalah istilah untuk peradangan mukosa. Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua:

  1. Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi.
  2. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor.

Berdasarkan penyebabkannya :

  1. Rhinitis alergi

Pengertian

Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di derita oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan. Merupakan inflamasi mukosa saluran hidung yang disebabkan oleh alergi terhadap partikel, seperti: debu, asap, serbuk/tepung sari yang ada di udara. Meskipun bukan penyakit berbahaya yang mematikan, rinitis alergi harus dianggap penyakit yang serius karena karena dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Tak hanya aktivitas sehari-hari yang menjadi terganggu, biaya yang akan dikeluarkan untuk mengobatinya pun akan semakin mahal apabila penyakit ini tidak segera diatasi karena telah menjadi kronis.( www. Google.com )

Rhinitis alergi Adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan setiap reaksi alergi mukosa hidung, dapat terjadi bertahun-tahun atau musiman. (Dorland,2002 )

2. Etiologi

Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu :

Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1 jam setelahnya

Late Phase Allergic Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam.

Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :

  • Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur
  • Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang
  • Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah
  • Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan

Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi menjadi tiga tahap besar :

1. Respon Primer,terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik

2. Respon Sekunder,reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system humoral, system selular saja atau bisa membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih ada, karena defek dari ketiga mekanisme system tersebut maka berlanjut ke respon tersier

3. Respon Tersier ,Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan

 

3. Manifestasi Klinis

1. Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari (umumnya bersin lebih dari 6 kali).

2. Hidung tersumbat.

  1. Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus.
  2. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok.
  3. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.
  1. Patofisiologi

Tepung sari yang dihirup, spora jamur, dan antigen hewan di endapkan pada mukosa hidung. Alergen yang larut dalam air berdifusi ke dalam epitel, dan pada individu individu yang kecenderungan atopik secara genetik, memulai produksi imunoglobulin lokal (Ig ) E. Pelepasan mediator sel mast yang baru, dan selanjutnya, penarikan neutrofil, eosinofil, basofil, serta limfosit bertanggung jawab atas terjadinya reaksi awal dan reaksi fase lambat terhadap alergen hirupan. Reaksi ini menghasilkan mukus, edema, radang, gatal, dan vasodilatasi. Peradangan yang lambat dapat turut serta menyebabkan hiperresponsivitas hidung terhadap rangsangan nonspesifik suatu pengaruh persiapan. (Behrman, 2000).

When to see an allergy/asthma specialistPenatalaksanaan

Hindari kontak & eliminasi, Keduanya merupakan terapi paling ideal. Hindari kontak dengan alergen penyebab, sedangkan eliminasi untuk alergen ingestan (alergi makanan).

Simptomatik : Terapi medikamentosa yaitu antihistamin, dekongestan dan kortikosteroid

o Antihistamin

Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin oral. Antihistamin oral dibagi menjadi dua yaitu generasi pertama (nonselektif) dikenal juga sebagai antihistamin sedatif serta generasi kedua (selektif) dikenal juga sebagai antihistamin nonsedatif.

Efek sedative antihistamin sangat cocok digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena rhinitis alergi yang dideritanya. Selain itu efek samping yang biasa ditimbulkan oleh obat golongan antihistamin adalah efek antikolinergik seperti mulut kering, susah buang air kecil dan konstipasi. Penggunaan obat ini perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami kenaikan tekanan intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular.

Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum terpapar allergen. Penggunaan antihistamin harus selalu diperhatikan terutama mengenai efek sampingnya. Antihistamin generasi kedua memang memberikan efek sedative yang sangat kecil namun secara ekonomi lebih mahal.

o Dekongestan

Dekongestan topical dan sistemik merupakan simpatomimetik agen yang beraksi pada reseptor adrenergic pada mukosa nasal, memproduksi vasokonstriksi. Topikal dekongestan biasanya digunakan melalui sediaan tetes atau spray. Penggunaan dekongestan jenis ini hanya sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik (Dipiro, 2005). Penggunaan obat ini dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan rhinitis medikamentosa (rhinitis karena penggunaan obat-obatan). Selain itu efek samping yang dapat ditimbulkan topical dekongestan antara lain rasa terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung. Untuk itu penggunaan obat ini memerlukan konseling bagi pasien.

Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan topical. Namun durasinya biasanya bisa lebih panjang. Agen yang biasa digunakan adalah pseudoefedrin. Pseudoefedrin dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat walaupun digunakan pada dosis terapinya (Dipiro, 2005). Obat ini harus hati-hati digunakan untuk pasien-pasien tertentu seperti penderita hipertensi. Saat ini telah ada produk kombinasi antara antihistamin dan dekongestan. Kombinasi ini rasional karena mekanismenya berbeda.

o Nasal Steroid

Merupakan obat pilihan untuk rhinitis tipe perennial, dan dapat digunakan untuk rhinitis seasonal. Nasal steroid diketahui memiliki efek samping yang sedikit.

Obat yang biasa digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan ipatropium bromida.

Operatif : Konkotomi merupakan tindakan memotong konka nasi inferior yang mengalami hipertrofi berat. Lakukan setelah kita gagal mengecilkan konka nasi inferior menggunakan kauterisasi yang memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.

Imunoterapi : Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking antibody. Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan. Netralisasi tidak membentuk blocking antibody dan untuk alergi ingestan.

Macam-Macam Rinitis alergi

Berdasarkan waktunya, Rhinitis Alergi dapat di golongkan menjadi:

  1. Rinitis alergi musiman (Hay Fever)

Biasanya terjadi pada musim semi.Umumnya disebabkan kontak dengan allergen dari luar rumah, seperti benang sari dari tumbuhan yang menggunakan angin untuk penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap.

Gejala:

Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa gatal, baik secara tiba-tiba maupun secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti dengan mata berair, bersin-bersin dan hidung meler. Beberapa penderita mengeluh sakit kepala, batuk dan mengi (bengek); menjadi mudah tersinggung dan deperesi; kehilangan nafsu makan dan mengalami gangguan tidur. Terjadi peradangan pada kelopak mata bagian dalam dan pada bagian putih mata (konjungtivitis). Lapisan hidung membengkak dan berwarna merah kebiruan, menyebabkan hidung meler dan hidung tersumbat.

Pengobatan

Pengobatan awal untuk rinitis alergika musiman adalah antihistamin.
Pemberian antihistamin kadang disertai dengan dekongestan (misalnya pseudoephedrine atau fenilpropanolaminn) untuk melegakan hidung tersumbat. Pemakaian dekongestan pada penderita tekanan darah tinggi harus diawasi secara ketat.
Bisa juga diberikan obat semprot hidung natrium kromolin; efeknya terbatas pada hidung dan tenggorokan bagian belakang. Jika pemberian antihistamin dan kromolin tidak dapat mengendalikan gejala-gejala, maka diberikan obat semprot kortikosteroid.
Jika obat semprot kortikosteroid masih juga tidak mampu meringankan gejala, maka diberikan kortikosteroid per-oral selama kurang dari 10 hari.

  1. Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial)

Disebabkan bukan karena musim tertentu ( serangan yang terjadi sepanjang masa (tahunan)) diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering berada di rumah misalnya kutu debu rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyengat

Gejala

Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa gatal, baik secara tiba-tiba maupun secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti dengan mata berair, bersin-bersin dan hidung meler. Beberapa penderita mengeluh sakit kepala, batuk dan mengi (bengek); menjadi mudah tersinggung dan deperesi; kehilangan nafsu makan dan mengalami gangguan tidur. Jarang terjadi konjungtivitis. Lapisan hidung membengkak dan berwarna merah kebiruan, menyebabkan hidung meler dan hidung tersumbat. Hidung tersumbat bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan tuba eustakius di telinga, sehingga terjadi gangguan pendengaran, terutama pada anak-anak. Bisa timbul komplikasi berupa sinusitis (infeksi sinus) dan polip hidung.

Pengobatan

Pengobatan awal untuk rinitis alergika musiman adalah antihistamin.
Pemberian antihistamin kadang disertai dengan dekongestan (misalnya pseudoefedrin atau fenilpropanolaminn) untuk melegakan hidung tersumbat. Pemakaian dekongestan pada penderita tekanan darah tinggi harus diawasi secara ketat.
Bisa juga diberikan obat semprot hidung natrium kromolin; efeknya terbatas pada hidung dan tenggorokan bagian belakang. Jika pemberian antihistamin dan kromolin tidak dapat mengendalikan gejala-gejala, maka diberikan obat semprot kortikosteroid; tidak dianjurkan untuk memberikan kortikosteroid per-oral (melalui mulut).
Obat tetes atau obat semprot hidung yang mengandung dekongestan dan bisa diperoleh tanpa resep dokter, sebaiknya digunakan tidak terlalu lama karena bisa memperburuk atau memperpanjang peradangan hidung. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk membuang polip atau pengobatan terhadap infeksi sinus.

Seseorang dapat mengalami rhinitis kombinasi antara dua jenis tersebut. Masih ada satu lagi jenis rhinitis alergi, yaitu : Rhinitis alergi occupational adalah Rhinitis yang terkait dengan pekerjaan. Paparan allergen didapat di tempat bekerja. Biasanya dialami oleh orang yang bekerja dekat dengan binatang. (Sheikh, 2008)

  1. Rhinitis Non Alergi

Pengertian

Rhinitis non allergi disebabkan oleh : infeksi saluran napas (rhinitis viral dan rhinitis bakterial, masuknya benda asing kedalam hidung, deformitas struktural, neoplasma, dan massa, penggunaan kronik dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi oral, kokain dan anti hipertensif.

Gejala

Kongesti nasal

Rabas nasal (purulent dengan rhinitis bakterialis)

Gatal pada nasal

Bersin-bersin

Sakit kepala

Terapi Medik

  • · Pemberian antihistamin
  • · Dekongestan
    • · Kortikosteroid topikal
    • · Natrium kromolin

Berdasarkan penyebabnya, rhinitis non alergi di golongkan sebagai berikut :

Ø Rinitis vasomotor

Pengertian

Rhinitis vasomotor adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis.(www. Google.com). Rinitis vasomotor mempunyai gejala yang mirip dengan rinitis alergisehingga sulit untuk dibedakan.

Etiologi

Belum diketahui, diduga akibat gangguankeseimbangan vasomotor. Keseimbangn vasomotor ini dipengaruhi berbagai hal :

v Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti: ergotamin, klorpromazin, obat antihipertensi, dan obat vasokontriktor lokal.

v Faktor fisik, seperti iritasi asap rokok, udara dingin, kelembapan udara yang tinggi, dan bau yang merangsang

v Faktor endokrin, seperti : kehamilan, pubertas, dan hipotiroidisme

v Faktor psikis, seperti : cemas dan tegang ( kapita selekta)

Manifestasi klinis

Hidung tersumbat, bergantian kiri dan kana, tergantung pada posisi pasien. Terdapat rinorea yang mukus atau serosa, kadang agak banyak. Jarang disertai bersin, dan tidak disertai gatal di mata. Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga karena asap rokok dan sebagainya.

Berdasarkan gejala yang menonjol, dibedakan atas golongan obstruksi dan rinorea. Pemeriksaan rinoskopi anterior menunjukkan gambaran klasik berupa edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua, dapat pula pucat. Permukaannya dapat licin atau berbenjol. Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit. Namun pada golgongan rinorea, sekret yang ditemukan biasanya serosa dan dalam jumlah banyak. ( kapita)

Patofisiologi

Rangsangan saraf parasimpatis akan menyebabkan terlepasnya asetilkolin, sehingga terjadi dilatasi pembuluh darah dalm konka serta meningkatkan permiabilitas kapiler dan sekresi kelenjar, sedangkan rangsangan sraaf simpatis mengakibatkan sebaliknya.( kapita)

Pemeriksaan penunjang

Dilakukan pemeriksaaan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret kulit tetapi jumlahnya sedikit. Tes kulit biasnya negatif.

Penatalaksanaan

Di cari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor dan disingkirkan kemungkinana rhinitis alergi. Terapi bervariasi, tergantung faktor penyebab dan gejala yang menonjol. Secara umum terbagi atas :

v Menghindari penyebab

v Pengobatan simtomatis, dengan obat dekongestan oral dan kortikosteroid topikal

v Operasi, dengan bedah beku, elektrokauter, atau konkotomi konka inferior

v Neurektomi nervus vidianus sebagai saraf otonom mukosa hidung, jika cara-cara di atas tidak berhasil. Operasinya tidak mudah dan komplikasinya cukup berat. (kapita )

Pengobatan

Pengobatan Rinitis Vasomotor bervariasi, tergantung kepada faktor penyebab dan gejala yang menonjol. Secara garis besar, pengobatan dibagi dalam:
1. Menghindari penyebab / pencetus ( Avoidance therapy )
2. Pengobatan konservatif ( Farmakoterapi ) :

Ø Dekongestan atau obat simpatomimetik digunakan untuk mengurangi keluhan hidung tersumbat. Contohnya: Pseudoephedrine dan Phenylpropanolamine (oral) serta Phenylephrine dan Oxymetazoline (semprot hidung ).

Ø Anti histamin : paling baik untuk golongan rinore.

Ø Kortikosteroid topikal mengurangi keluhan hidung tersumbat, rinore dan bersin-bersin dengan menekan respon inflamasi lokal yang disebabkan oleh mediator vasoaktif. Biasanya digunakan paling sedikit selama 1 atau 2 minggu sebelum dicapai hasil yang memuaskan. Contoh steroid topikal : Budesonide, Fluticasone, Flunisolide atau Beclomethasone

Ø Anti kolinergik juga efektif pada pasien dengan rinore sebagai keluhan utamanya.Contoh : Ipratropium bromide ( nasal spray )

3. Terapi operatif ( dilakukan bila pengobatan konservatif gagal ) :
Kauterisasi konka yang hipertrofi dengan larutan AgNO3 25% atau triklorasetat pekat ( chemical cautery ) maupun secara elektrik (electrical cautery).
Diatermi submukosa konka inferior (submucosal diathermy of the inferior turbinate )
Bedah beku konka inferior ( cryosurgery )
Reseksi konka parsial atau total (partial or total turbinate resection)
Turbinektomi dengan laser ( laser turbinectomy )
Neurektomi n. vidianus ( vidian neurectomy )

Ø Rinitis Medikamentosa

Pengertian

Rhinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung berupa gangguan respon normal vasomotor sebagai akibat pemakaian vasokonstriktor topical (obat tetes hidung atau obat semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan, sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang menetap. Dapat dikatakan hal ini disebabkan oleh pemakaian obat yang berlebihan (Drug Abuse).

Gejala dan Tanda

Penderita mengeluh hidungnya tersumbat terus menerus dan berair. Pada pemeriksaan konka dengan secret hidung yang berlebihan. Apabila diuji dengan adrenalin, adema konka tidak berkurang.

Terapi

1. Hentikan pemakaian obat tetes dan sempror hidung.

2. Untuk mengatasi sunbatan berulang, beri kortikosteroit secara penurunan bertahab dengan menurunkan dosis 5 mg setiap hari.(misalnya hari 1: 40 mg, hari 2: 35 mg dan seterusnya).

3. Obat dekongestan oral (biasanya mengandung pseudoefredin). Apabila dengan cara ini tak ada perbaikan setelah 3 minggu pasien dirujuk ke dokter THT.

Ø Rhinitis Atrofi

Pengertian

Rhinitis Atrofi adalah satu penyakit infeksi hidung kronik dengan tanda adanya atrofi progesif tulang dan mukosa konka. Secara klinis, mukosa hidung menghasilkan secret kental dan cepat mongering, sehingga terbentuk krusta berbau busuk. Sering mengenai masyarakat dengan tingkat social ekonomi lemah dan lingkungan buruk. Lebih sering mengenai wanita, terutama pada usia pubertas.

Etiologi

Belum jelas, beberapa hal yang dianggap sebagai penyebabnya seperti infeksi oleh kuman spesifik, yaitu spesies Klebsiella, yang sering Klebsiella ozanae, kemudian stafilokok, sreptokok, Pseudomonas aeruginosa, defisiensi Fe, defisiensi vitamin A, sinusitis kronik, kelainan hormonal, dan penyakit kolagen. Mungkin berhubungan dengan trauma atau terapi radiasi.

Manifestasi klinis

Keluhan subyektif yang sering ditemukan pada pasien biasanya nafas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia), ingus kental hijau, krusta hijau, gangguan penciuman, sakit kepala, dan hidung tersumbat.

Pada pemeriksaan THT ditemukan rongga hidung sangat lapang, konka inferior dan media hipotrofi atau atrofi secret purulen hijau dan krusta berwarna hijau.

Pemeriksaan penunjang

Dapat dilakukan transiluminasi, fotosinus para nasal, pemeriksaan mikro organisme uji resistensi kuman, pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan Fe serum, dan serologi darah. Dari pemeriksaan histo patologi terlihat mukosa hidung menjadi tipis, silia hilang, metaplasia thoraks menjadi epitel kubik atau gepeng berlapis, kelenjar degenerasi dan atrofi, jumlahnya berkurang dan bentuknya mengecil.

Penatalaksanaan

Belum adanya yang baku. Penatalaksanaan ditunjukkan untuk menghilangkan etiologi, selain gejalanya dapat dilakukan secara konservatif atau operatif. Secara konservatif dapat diberikan

1. Antibiotic presprektum luas atau sesuaiuji resistensi kuman sampai gejala hilang.

2. Obat cuci hidung agar bersih dari krusta dan bau busuk hilang dengan larutan betadine satu sendok makan dalam 100 cc air hangat

3. Vitamin A 3×50.000 unit selama 2 minggu

4. Preparat Fe

5. Pengobatan sinusitis, bila terdapat sinusitis.

 Komplikasi

  • Polip hidung. Rinitis alergi dapat menyebabkan atau menimbulkan kekambuhan polip hidung.
  • Otitis media. Rinitis alergi dapat menyebabkan otitis media yang sering residif dan terutama kita temukan pada pasien anak-anak.
  • Sinusitis kronik
  • Otitis media dan sinusitis kronik bukanlah akibat langsung dari rinitis alergi melainkan adanya sumbatan pada hidung sehingga menghambat drainase.

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN

 Pengkajian

Identitas

Ø Nama

Ø jenis kelamin

Ø umur

Ø bangsa

keluhan utama

Bersin-bersin, hidung mengeluarkan sekret, hidung tersumbat, dan hidung gatal

Riwayat peyakit dahulu

Pernahkan pasien menderita penyakit THT sebelumnya.

Riwayat keluarga

Apakah keluarga adanya yang menderita penyakit yang di alami pasien

Pemeriksaan fisik :

– Inspeksi : permukaan hidung terdapat sekret mukoid

– Palpasi : nyeri, karena adanya inflamasi

Pemeriksaan penunjang :

Ø Pemeriksaan nasoendoskopi

Ø Pemeriksaan sitologi hidung

Ø Hitung eosinofil pada darah tepi

Ø Uji kulit allergen penyebab

 Diagnosa

1. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan tentang penyakit dan prosedur tindakan medis

2. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi /adanya secret yang mengental

3. Gangguan pola istirahat berhubungan dengan penyumbatan pada hidung

4. Gangguan konsep diri berhubungan dengan rhinore

 Intervensi

1. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan tentang penyakit dan prosedur tindakan medis

Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang

Kriteria :

a. Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya

b. Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya.

Intervensi

Rasional

1. Kaji tingkat kecemasan klien

2. Berikan kenyamanan dan ketentaman pada klien :

– Temani klien

– Perlihatkan rasa empati( datang dengan menyentuh klien )

3. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan, tenang seta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti

4. Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya :

– Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang

– Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan

5. Observasi tanda-tanda vital.

6. Bila perlu , kolaborasi dengan tim medis

1. Menentukan tindakan selanjutnya

2. Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan

3. Meningkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit tersebut sehingga klien lebih kooperatif

4. Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan ketenangan klien.

5. Mengetahui perkembangan klien secara dini.

6. Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien

2. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi /adnya secret yang mengental.

Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret dikeluarkan

Kriteria :

a. Klien tidak bernafas lagi melalui mulut

b. Jalan nafas kembali normal terutama hidung

Intervensi

Rasional

a. Kaji penumpukan secret yang ada

b. Observasi tanda-tanda vital.

c. Kolaborasi dengan team medis

a. Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya

b. Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi

c. Kerjasama untuk menghilangkan obat yang dikonsumsi

3. Gangguan pola istirahat berhubungan dengan penyumbatan pada hidung

Tujuan : klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman

Kriteria :

– Klien tidur 6-8 jam sehari

Intervensi

Rasional

a. Kaji kebutuhan tidur klien.

b. ciptakan suasana yang nyaman.

c. Anjurkan klien bernafas lewat mulut

d. Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat

a. Mengetahui permasalahan klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur

b. Agar klien dapat tidur dengan tenang

c. Pernafasan tidak terganggu.

d. Pernafasan dapat efektif kembali lewat hidung

4. Gangguan konsep diri berhubungan dengan rhinore

Intervensi

Rasional

a. Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan dan prognosis kesehatan

b. ajarkan individu menegenai sumber komunitas yang tersedia, jika dibutuhkan (misalnya : pusat kesehatan mental)

c. dorong individu untuk mengekspresikan perasaannya, khususnya bagaimana individu merasakan, memikirkan, atau memandang dirinya

a. memberikan minat dan perhatian, memberikan kesempatan untuk memperbaiakikesalahan konsep

b. pendekatan secara komperhensif dapat membantu memenuhi kebutuhan pasienuntuk memelihara tingkah laku koping

c. dapat membantu meningkatkan tingkat kepercayaan diri, memperbaiki harga diri, mrnurunkan pikiran terus menerus terhadap perubahan dan meningkatkan perasaan terhadap pengendalian diri

Implementasi

1. Mendorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan dan prognosis kesehatan

2. Mengatur kelembapan ruangan untuk mencegah pertumbuhan jamur

3. Menjauhkan hewan berbulu dari pasien alergi, namun hal ini sering tidak dipatuhi terutama oleh pecinta binatang

4. Membersihkan kasur secara rutin

 

Evaluasi

1. Mengetahui tentang penyakitnya

2. Sudah bisa bernafas melalui hidung dengan normal

3. Bisa tidur dengan nyenyak

4. Mengutarakan penyakitnya tentang perubahan penampilan

Kesimpulan

Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005 )

Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 )

Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :

  • Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur
  • Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang
  • Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah
  • Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan

 Saran

penyusun sangat membutuhkan saran, demi meningkatkan kwalitas dan mutu makalah yang kami buat dilain waktu. Sehingga penyusun dapat memberikan informasi yang lebih berguna untuk penyusun khususnya dan pembaca umumnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

-Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.1 Edisi 15. Jakarta: EGC

-Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.2 Edisi 18. Jakarta: EGC

-Dorland, WA. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC

-Hassan, rusepno dkk. 1985. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 2. Jakarta: Info Medika

-Junadi, purnawan dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius

-Long, barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Bandung: Yayasan IAPK Pajajaran

-Mansjoer, arif dkk. 1993. Kapita Selekta Kedokteran Jilid.1 Edisi 3. jakarta : Media Aesculapius

– Price, silvya A. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4. Jakarta : EGC

-Smeltzer, suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

– Soepardi, efiaty arsyad. 1997. Telinga-Hidung-Tenggorok. Jakarta : fakultas kedokteran universitas indonesia

www.google.com