askep pneomonia

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    LATAR BELAKANG

Pnueumonia merupakan suatu radang paru yang disebabkan oleh bemacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur, dan benda asing. Tubuh mempunyai daya tahan yang beguna untuk melindungi dari bahaya infeksi melalui mekanisme daya tahan traktus respiratoris. Anak dengan daya tahan terganggu akan menderita pneumonia berulang atau tidak mampu mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Faktor lain yang memperngaruhi timbulnya pneumonia ialah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat Malnutrisi Energi Protein (MEP), penyakit menahun, trauma pada paru, anestesia, aspirasi dan pengobatan dengan antibiotik yang tidak sempurna.

(Ngastiyah, 2005 : 57)

 Pneumoniaadalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru atau alveoli.Terjadinya pneumonia, khususnya pada anak, seringkali bersamaan dengan prosesinfeksiakutpada bronkus, sehingga biasa disebut dengan bronchopneumonia. Gejala penyakit tersebutadalah nafas yang cepat dan sesak karena paru-paru meradang secara mendadak.Penumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian cairandi dalam alveoli. Hal ini terjadi ini terjadi akibat adanya invaksi agen atau infeksius adalahadanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran. Trakhabrnkialis, adalah pun beberapakeadaan yang mengganggu mekanisme pertahanan sehingga timbul infeksi paru misalnya,kesadaran menurun, umur tua, trakheastomi, pipa endotrakheal, dan lain-lain. Dengan demikianflora endogen yang menjadi patogen ketika memasuki saluran pernafasa. ( Ngasriyal, PerawatanAnak Sakit, 1997)Pneumonia adalah sebuah penyakit padaparu-parudi manapulmonary alveolus(alveoli) yang bertanggung jawab menyerapoksigendariatmosfermenjadi “inflame” dan terisi oleh cairan. Pneumonia dapat disebabkan oleh beberapa penyebab, termasuk infeksiolehbakteria,  virus,  jamur,atauparasit.Pneumonia dapat juga disebabkan oleh iritasi kimia atau fisik dari paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, sepertikanker paru-paruatauterlalu banyak  minum alkohol.Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara primer atausekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah bakteri positif-gram, Streptococus pneumoniae yang menyebabkan pneumonia streptokokus. BakteriStaphylococcus aureus dan streptokokus beta-hemolitikus grup A juga sering menyebabkanpneumonia, demikian juga Pseudomonas aeruginosa. Pneumonia lainnya disebabkan oleh virus,misalnya influenza. Pneumonia mikoplasma, suatu pneumonia yang relatif sering dijumpai,disebabkan oleh suatu mikroorganisme yang berdasarkan beberapoa aspeknya, berada di antarabakteri dan virus.Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas atas akut selamabeberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40.

  1. B.     TUJUAN

Tujuan umum

Penulisan makalah ini bertujuan untuk :

  1. Agar mahasiswa mengetahui lebih lanjut tentang penyakit pneumonia
  2. Agar mahasiswa dapat memberikan askep dengan penyakit pneumonia.

 

Tujuan khusus

  1. Mengetahui defenisi pneumonia
  2. Mengetahui etiologi pneumonia
  3. Mengetahui patofisiologi pneumonia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Definisi

Pneumonia adalah radang paru-paru yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam mikro organisme, seperti bakteri, virus, jamur, dan benda-benda asing. Pneumonia merupakan peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.

Pneumonia adalah suatu peradangan atau inflamasi pada parenkim paru yang
umumnya disebabkan oleh agent infeksi.

Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.(Ngastiyah, 2005 : 57)

Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru. (Mansjoer, 2000 : 465)

Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan kondisi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. (Waspadji, 2001 : 801)

 

  1. B.     Etiologi

Anak dengan daya tahan terganggu akan menderita pneumonia berulang atau tidak mampu mengatasi penyakit ini dengan sempurna . Faktor lain yang mempemgaruhi timbulnya pneumonia adalah daya tahan tubuh yang menurun misalnya akibat malnutrisi energy protein (MEP) , penyakit menahun, trauma pada paru , anesthesia , aspirasi.
Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti :
1. Bakteri: stapilokokus, streplokokus, aeruginosa, eneterobacteri
2. Virus: virus influenza, adenovirus
3. Micoplasma pneumonia
4. Jamur: candida albicans
5. Aspirasi: lambung
Pada umumnya pembagian pneumonia menurut dasar anatomis .Pembagian anatomis ialah 1.) pneumonia lobaris 2.) pneumonia lobularis (bronkopneumonia), 3.) pneumonia interstitialis.

 

  1. C.    Patofisiologi

           Terjadinya pneumonia tergantung kepada virulensi mikro organisme, tingkat kemudahan dan luasnya daerah paru yang terkena serta penurunan daya tahan tubuh. Pneumonia dapat terjadi pada orang normal tanpa kelainan imunitas yang jelas. Faktor predisposisi antara lain berupa kebiasaan merokok, pasca infeksi virus, penyakit jantung kronik, diabetes mellitus, keadaan imunodefisiensi, kelainan atau kelemahan struktur organ dada dan penurunan kesadaran.
Juga adanya tindakan invasife: infuse, intubasi, trakeostomi, pemasangan ventilator. Lingkungan tempat tinggal, misalnya dip anti jompo, penggunaan antibiotic, dan obat suntik IV serta keadaan alkoholik meningkatkan kemungkinan terinfeksi kuman gram negative.
Pneumonia diharapkan akan sembuh setelah terapi 2-3 minggu. Bila lebih lama perlu dicurigai adanya infeksi kronik oleh bakteri anaerob atau non bakteri seperti oleh jamur, mikrobakterium atau parasit.

Bakteri penyebab terisap perifer melalui saluran nafas menyebabkan reaksi jaringan berupa edema, yang mempermudah poliferasi dan penyebaran kuman. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi, yaitu terjadinya serbukan sel PMN (polimorfonuklear), febrin, eritrosit, cairan edema dan kuman di alveoli dan proses fagositosis yang cepat. Dilanjutkan stadium resolusi, dengan peningkatan jumlah sel makrofag di alveoli, degenerasi sel dan menipisnya fibrin, serta menghilangnya kuman dan debris.

Proses kerusakan yang terjadi dapat dibatasi dengan pemberian antibiotik sedini mungkin agar sistem bronkopulmonal yang tidak terkena dapat diselamatkan.

(Mansjoer, 2000 : 466)

 

  1. D.    Klasifikasi

Berdasarkan anatomiknya, pneumonia dibagi atas pneumonia lobaris, pneumonia lobularis (bronchopneumonia) dan pneumonia interstitial (bronchitis).
Berdasarkan etiologinya, dibagi atas;

1.Bakteri
•Pneumokok, merupakan penyebab utama pneumonia. Pada orang dewasa umumnya disebabkan oleh pneumokok serotipe 1 samapi dengan 8. Sedangkan pada anak-anak serotipe 14, 1, 6, dan 9. Inseiden meningkat pada usia lebih kecil 4 tahun dan menurun dengan meningkatnya umur.
•Steptokokus, sering merupakan komplikasi dari penyakit virus lain, seperti morbili dan varisela atau komplikasi penyakit kuman lainnya seperti pertusis, pneumonia oleh pnemokokus.
•Basil gram negatif seperti Hemiphilus influensa, Pneumokokus aureginosa, Tubberculosa.
•Streptokokus, lebih banyak pada anak-anak dan bersifat progresif, resisten terhadap pengobatan dan sering menimbulkan komplikasi seperti; abses paru, empiema, tension pneumotoraks.
2.Virus
•Virus respiratory syncytial, virus influensa, virus adeno, virus sistomegalik.
3.Aspirasi
4.Pneumonia hipostatik
•Penyakit ini disebabkan tidur terlentang terlalu lama.
5.Jamur
6.Sindroma Loeffler.

 

 

  1. E.     Manifestasi Klinis

Secara khas diawali dengan awitan menggigil, demam yang timbul dengan cepat (39,5 ºC
sampai 40,5 ºC).

  • Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk.
  • Takipnea (25 – 45 kali/menit) disertai dengan pernafasan mendengur, pernafasan cuping hidung
  • Nadi cepat dan bersambung
  •  Bibir dan kuku sianosis
  •  Sesak nafas
  • Demam dan menggigil akibat proses peradangan.
  •  Batuk yang sering produktif dan purulen.
  • Sputum berwarna merah karat ( streptococcus pneumonia), sputum berwarna merah muda (staphylococcus aureus), sputum berwarna hijau dan berbau khas (pseudomonas aeruginosa)
  •  Krekel ( bunyi paru tambahan).
  •  Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan hipoksia apabila infeksinya serius.
  •  Nyeri pleural akibat peradangan edema.
  •  Biasanya sering terjadi respons subyektif dipsneu.
  •  Mungkin timbul tanda-tanda sianosis.
  •  Ventilasi mungkin berkurang akibat penimbunan mucus, yang dapat menyebabkan atelaktasis absorpsi.

 Hemoptisis, batuk berdahak bahkan darah, dapat terjadi cedera toksin langsung pada kapiler, atau akibat reaksi peradangan yang menyebabkan kerusakan kapiler.

 

  1. F.       Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada pneumonia yaitu (Asih,2003):
a. Pembentukan abses
b. Efusi pleura
c. Empiema
d. Bakteremia
e. Septikemia
–          Efusi pleura dan empiema.

Terjadi pada sekitar 45% kasus, terutama pada infeksi bakterial akut berupa efusi parapneumonik gram negatif sebesar 60%, staphyloccocus aurens 50%, S. Pneumoniae 40-60%, kuman an aerob 35%. Sedangkan pada mycoplasma pneumoniae sebesar 20%. Cairannya transudat dan steril, terkadang pada infeksi bakterial terjadi empiema dengan cairan eksudat.

–          Komplikasi sistemik.

Dapat terjadi akibat invasi kumabn atau bakteriamia beurpa meningitis. Dapat juga terjadi dehidrasi dan hiponatremia, anemia pada infeksi kronik, peninggian ureum dan enzim hati. Adang-kadang terjadi peninggian fosfatase alkali dan bilirubin akibat adanya kolestatis intrahepatik.

–          Hopoksemia akibat gangguan disfusi.

–          Pneumonia kronik yang dapat terjadi bila pneumonia pada masa anak-anak tetapi dapat juga oleh infeksi berulang dilokasi bronkus distal pada cystic fibrosis atau hipogamaglobulinemia. Tuberkulosis atau pneumonia nekrotikans.

 

  1. G.    Pemeriksaan Penunjang
  1. Sinar X : mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial); dapat juga
    menyatakan abses)
  2. Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada.
  3. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
  4. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan.
  5. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis
  6. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi.
  7. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing.

 

  1. H.    Penatalaksanaan

Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal
itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya :

  • Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus.
  • Amantadine, rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus
  • Eritromisin, tetrasiklin, derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma.
  • Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda.
  • Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia.
  • Bila terjadi gagal nafas, diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup.
  • Oksigen 1-2 l/menit

–          IVFD dekstrose 10% : NaCl 0.9% = 3 : 1 KCL 10 Meg ml ciaran. Jumlah cairan sesuai dengan berat badan, kenaikan suhu dan status hidrasi.

–          Jika sesak tidak terlalu hebat dapat dimulai makanan anteral bertahap melalui selang

abonis untuk memperbaiki transpor mukosilier.

–          Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit

Untuk kasus penumonia community base :

  • Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian.
  • Kloram teknikol 75 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian.

Untuk kasus pneumonia hospital base :

  • Sefotaksim 100 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.
  • Amikusin 10-15 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.

 Penatalaksanaan Medis
a. Antibiotik, terutama untuk pneumonia bergantung pada penyebab sesuai dapat diobati dengan antibiotik untuk mengurangi resiko infeksi bakteri sekunder.
b. Pengobatan supportive pada virus pneumonia.

c. Berikan oksigen yang adekuat

BAB III

ASKEP TEORITIS

  1. A.     Pengkajian

 

  1. Aktivitas/istirahat
    Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
    Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
  2.  Sirkulasi
    Gejala : riwayat adanya
    Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat.
  3.  Makanan/cairan
    Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus
    Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia
    (malnutrisi).
  4.  Neurosensori
    Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
    Tanda : perusakan mental (bingung)
  5.  Nyeri/kenyamanan
    Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgia.
    Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan
  6.  Pernafasan
    Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
    Tanda :
    o sputum: merah muda, berkarat
    o perpusi: pekak datar area yang konsolidasi
    o premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
    o Bunyi nafas menurun
    o Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku
  7.  Keamanan
    Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
    Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar
  8.  Penyuluhan/pembelajaran
    Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
    Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari
    Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah.
    1. B.      Diagnosa Keperawatan
  1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru
  2. Defisit Volume Cairan b.d Penurunan intake cairan
  3.  Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.
  4.  Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.
  5.  Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.
  6.  Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.

 

  1. C.     Intervensi
  2. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru
    Karakteristik :

Batuk (baik produktif maupun non produktif) haluaran nasal, sesak nafas, Tachipnea, suara nafas terbatas, retraksi, demam, diaporesis, ronchii, cyanosis, leukositosis.

Tujuan :

Anak akan mengalami pola nafas efektif yang ditandai dengan :

    • Suara nafas paru bersih dan sama pada kedua sisi
    • Suhu tubuh dalam batas 36,5 – 37,2OC
    • Laju nafas dalam rentang normal
    • Tidak terdapat batuk, cyanosis, haluaran hidung, retraksi dan diaporesis

Intervensi

    • Lakukan pengkajian tiap 4 jam terhadap RR, S, dan tanda-tanda keefektifan jalan napas.
      R : Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang akan/telah diberikan.
    • Lakukan Phisioterapi dada secara terjadwal
      R : Mengeluarkan sekresi jalan nafas, mencegah obstruksi
    • Berikan Oksigen lembab, kaji keefektifan terapi
      R : Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru
    • Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai order, kaji keefektifan dan efek samping (ruam, diare)
      R : Pemberantasan kuman sebagai faktor causa gangguan
    • Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks
      R : Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen, evaluasi kondisi jaringan paru
    • Lakukan suction secara bertahap
      R : Membantu pembersihan jalan nafas
    • Catat hasil pulse oximeter bila terpasang, tiap 2 – 4 jam
      R : Evaluasi berkala keberhasilan terapi/tindakan tim kesehatan.

 

  1. Defisit Volume Cairan b.d Penurunan intake cairan

    Karakteristik :

Hilangnya nafsu makan/minum, letargi, demam., muntah, diare, membrana mukosa kering, turgor kulit buruk, penurunan output urine.

Tujuan :
Anak mendapatkan sejumlah cairan yang adekuat ditandai dengan :

    • Intake adekuat, baik IV maupun oral
    • Tidak adanya letargi, muntah, diare
    • Suhu tubuh dalam batas normal
    • Urine output adekuat, BJ Urine 1.008 – 1,020

Intervensi :

    • Catat intake dan output, berat diapers untuk output
      R : Evaluasi ketat kebutuhan intake dan output
    • Kaji dan catat suhu setiap 4 jam, tanda devisit cairan dan kondisi IV line
      R : Meyakinkan terpenuhinya kebutuhan cairan
    • Catat BJ Urine tiap 4 jam atau bila perlu
      R : Evaluasi obyektif sederhana devisit volume cairan
    • Lakukan Perawatan mulut tiap 4 jam
      R : Meningkatkan bersihan sal cerna, meningkatkan nafsu makan/minum.

 

  1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.

Tujuan : Pasien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenasi jaringan secara adekuat.
Rencana Tindakan :
1) Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda sianosis setiap 2 jam.
2) Beri posisi fowler/semi fowler.
3) Beri oksigen sesuai program.
4) Monitor analisa gas darah.
5) Ciptakan lingkungan yang tenang dan kenyamanan pasien.
6) Cegah terjadinya kelelahan pada pasien.

 

  1. Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.

Tujuan : Pasien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal.
Rencana Tindakan :
1) Catat intake dan out put cairan. Anjurkan ibu untuk tetaap memberi cairan peroral à hindari milk yang kental/minum yang dingin à merangsang batuk.
2) Monitor keseimbangan cairan à membrane mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran menurun, tanda-tyanda vital.
3) Pertahankan keakuratan tetesan infuse sesuai program.
4) Lakukan oral hygiene.

  1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.

Tujuan : Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kondisi.
Rencana Tindakan :
1) Kaji toleransi fisik pasien.
2) Bantu pasien dalam aktifitas dari kegiatan sehari-hari.
3) Sediakan permainan yang sesuai usia pasien dengan aktivitas yang tidak mengeluarkan energi banyak à sesuaikan aktifitas dengan kondisinya.
4) Beri O2 sesuai program.
5) Beri pemenuhan kebutuhan energi.

  1. Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.

Tujuan : Pasien akan memperlihatkan sesak dan keluhan nyeri berkurang, dapat batuk efektif dan suhu normal.
Rencana Tindakan :
1) Cek suhu setiap 4 jam, jika suhu naik beri kompres dingin.
2) Kelola pemberian antipiretik dan anlgesik serta antibiotic sesuai program.
3) Bantu pasien pada posisi yang nyaman baginya.
4) Bantu menekan dada pakai bantal saat batuk.
5) Usahakan pasien dapat istirahat/tidur yang cukup.

 

 

  1. D.    Implementasi

Prinsip implementasi :
1. Observasi status pernafasan seperti bunyi nafas dan frekuensi setiap 2 jam, lakukan fisioterapi dada setiap 4 – 6 jam dan lakukan pengeluaran secret melalui batuk atau pengisapan, beri O2 sesuai program.
2. Observasi status hidrasi untuk mengetahui keseimbangan intake dan out put.
3. Monitor suhu tubuh.
4. Tingkatkan istirahat pasien dan aktifitas disesuaikan dengan kondisi pasien.
5. Perlu partisipasi orang tua dalam merawat anaknya di RS.
6. Beri pengetahuan pada orang tua tentang bagaimana merawat anaknya dengan bronchopneumonia.

 

  1. E.      Evaluasi

Hasil evaluasi yang ingin dicapai :
1. Jalan nafas efektif, fungsi pernafasan baik.
2. Analisa gas darah no

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Pneumonia adalah suatu peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda dasing.

 

 Saran

a.       Aspek penyakit pneumonia harus dipahami untuk dapat mengatasi dengan baik.

b.      Tindakan pencegahan harus diambil untuk mengurangi angka morbilitas penyakit.

c.       Faktor resiko penyebab pneumonia harus dikurangi/dihindari.

 

Daftar Pustaka

                  Mansjoer, Arif. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II. Media Aesculapius. Jakarta.

                  Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius. Jakarta.

Mansjoer, Arif. (2002). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta. Media Aesculapius

Nanda. (2007). Diagnose Nanda: Nic dan Noc.

Ngastiyah
Perawatan anak sakit / Ngastiyah ; editor,Setiawan –Jakarta : EGC, 1997.

Abdoerrahman ., Alatas.,Ali Dahlan.,dkk.(1985). Buku kuliah ilmu kesehatan anak. FKUI.
Jakarta : Info medika.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s