askep dhf

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar belakang

 

Dengue haemorrhagic fever (DHF) atau demam berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penyakit ini menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian, terutama pada anak.

            Penyebaba penyakit demam berdarah dengue (DBD) atau dengue haemorrhagic fever (DHF) adalah virus dengue.

            Di Indonesia,virus ini diisolasikan menjadi 4 serotipe virus dengue yang termasuk dalam grup B dari arthropedi borne viruses (Arboviruses), yaitu DEN-1,DEN-2,DEN-3 dan DEN-4. Ternyata  DEN-2 dan DEN-3 merupaka serotip yang menjadi penyebab terbanyak. Di Thailand,dilaporkan bahwa serotip DEN-2 adalah dominan. Smentara di Indonesia,yang terutama dominan adalah DEN-3,tetapi akhir-akhir ini kecendrungan dominasi DEN-2.

            Infeksi oleh salah satu serotipe menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan, tetapi tidak  ada perlindungan terhadap serotipe lain. Virus dengue ini terutama ditularkan melalui vector nyamuk aedes aegypti. Nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis, dan beberapa spesies lain kurang berperan. Jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh Indonesia kecuali di ketinggian lebih dari 1000 m di atas permukaan laut.

Gejala yang tampak akibat infeksi virus dengue biasanya muncul setelah masa inkubasi (masa dimana virus berkembang hingga menimbulakan gejala) 3-8 hari setelah virus masuk kedalam tubuh. Jika system pertahanan tubuh dapat mengatasi virus,maka gejala yang tampak bisa ringan atau bahkan tidak di dapatkan.

 

 

  1. Tujuan

Untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen dari mata kuliah dan untuk menambah wawasan/khazanah keilmuan khususnya mengenai seputar keperawatan serta untuk mengetahui lebih jauh tentang penyakit DHF.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Tinjauan teoritis
  • Definisi

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ).

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman , 1990).

DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001).

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty (Seoparman, 1996).

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.

 

 

o   Etiologi

a.        Virus dengue sejenis arbovirus.

b.      Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif, Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70 oC.

c.       Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan serotif yang paling banyak.

 

 

 

o   Patofisiologi

Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.

Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF. Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah , menurunnya volume plasma , terjadinya hipotensi , trombositopenia dan diathesis hemorrhagic , renjatan terjadi secara akut.

Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.

Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.

Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan.

Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler ibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit.

Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada pasien dengan perdarahan hebat.

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Manifestasi klinis

 

 Manifestasi bervariasi menurut umur dan dari penderita ke penderita. Pada bayi dan anak kecil (muda) penyakit mungkin tidak terdiferensiasi atau ditandai oleh demam 1-5 hari,radang faring,rhingitis,dan batuk ringan. Pada wabah yang sebagian besar terinfeksi adalah anak yang lebih tua dan orang dewasa mempunyai tanda-tanda yang diuraikan berikut ini. Sesudah masa inkubasi 1-7 hari,ada demam yang mulai ,mendadak,yang dengan cepat naik sampai 39,4-41 IoC, biasanya disertai dengan nyeri frontal atau retroobital. Nyeri dibagian oto terutama dirasakan bila otot perut ditekan. Sekitar mata mungkuin ditemukan pembengkakan,lakrimasi,fotofobia,otot-otot sekitar mata terasa pegal. Tanda-tanda renjatan (sianosis,kulit lembaba dan dingin tekanan darah menurun,gelisah,capillary refill lebih dari dua detik,nadi cepat dan lemah). Eksantem yang klasik ditemukan dalam 2 fase, mula-mula pada awal demam (6-12 jam sebelum suhu naik pertama kali,terlihat jelas dimuka dan dada yang berlangsung selama beberapa jam dan biasanya diperhatikan oleh pasien. Ruam berikutnya mulai hari 3-6, mula-mula berbentuk macula besar yang kemudian bersatu mencuat kembali, serta kemudian muncul bercak-bercak patekia. Pada dasarnya hal ini terlihat pada lengan dan kaki,kemudian menjalar ke seluruh tubuh pada saat suhu turun ke normal,ruam ini berkurang dan cepat menghilang. Bekas-bekasnya kadang terasa gatal. Nadi pasein mula-mula cepat dan menjadi normal atau lebih lambat pada hari ke-4 atau ke-5. Bradikardi dapat menetap beberapa hari dalam masa penyembuhan.

            Gejala perdarahanmulai hari ke 3 atau ke 5 berupa petikia,purpura,ekimosis,hematemesis,epistaksis. Juga terjadi syok yang terjadi pada saat demam telah menurun pada saat hari ke-3 atau ke-7. Dengan tanda anak menjadi lemah,ujung jari,telinga,hidung, teraba dingindan lembab,denyut nadi terasa cepat,kecil dan tekanan darah menurun dengan tekakan sistolik 80mmHG atau kurang.

 

 

 

 

  • Fisiologis

Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri

 

 

 

 

  • TANDA DAN GEJALA

Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dangejala lain adalah :

  • Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan.
  •    Asites
  •   Cairan dalam rongga pleura ( kanan )
  •    Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma.
  • Demam tinggi selama 5 7 hari.
  •  Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.

 

  • Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.

 

  •  Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.

 

  • Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.

 

  •  Sakit kepala.

 

  • Pembengkakan sekitar mata.

 

  •  Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.

 

  •  Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

 

 

 

 

 

 

  • PEMERIKSAAN DAN DIGNOSIS

–          Trombositopeni ( £ 100.000/mm3)

–          Hb dan PCV meningkat ( ³ 20% )

–          Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )

–          Isolasi virus

–          Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder

–          Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali ( setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda perbaikan ), Faal hemostasis, FDP, EKG, Foto dada, BUN, creatinin serum.

  • Komplikasi

Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :

a. Perdarahan luas.

b. Shock atau renjatan.

c. Effuse pleura

d. penurunan kesadaran

 

 

 

 

 

  • Pencegahan

Pencegahan penyebab penyakit DHF yang tepat akan membantu mengurangi jumlah penderita dan mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB). Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut:

  1. Memanfaatkan  perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamia dengan melaksanakan pemberantasan vector pada  saat sedikit terdapatnya kasusDHF.
  2. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vector pada tingkat yang sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara spontan.
  3. Mengusahakan pemberantasan vector di pusat daerah penyebaran yaitu di sekolah, rumah sakit temasuk pula daerah penyangga sekitarnya.
  4. Mengusahakan pemberantasan vector di semua daerah berpotensi penularan tinggi.

 

 

 

BAB III

ASKEP TEORITIS

 

  1. Pengkajian

 

  1. Identitas pasien

Nama, umur (pada DHF paling sering menyerang anak-anak dengan usia kurang dari 15 tahun), jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan orang tua, dan

pekerjaan orang tua.

 

  1. Keluhan utama

Alasan/keluhan yang menonjol pada pasien DHF  untuk datang ke rumah sakit adalah panas tinggi dan anak lemah.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Didapatkan adanya keluhan  panas mendadak yang disertai menggigil dan saat demam kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai dengan keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah anoreksi, diare/kontipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit,gusi (grade III,IV), melena atau hematemesis.

  1. Riwayat penyakit yang pernah diderita

Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF,anak bisa menglami serangan ulangasn DHF dengan tipe virus yang lain.

  1. Riwayat imunisasi

Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.

  1. Riwayat gizi

Status  gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan status gizi baik maupun buruk dapat bertisiko, apabila terdapat faktor presposisinya. Anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah, dan  nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjur dan tidak disertai dengan berat  badan sehingga status gizinya menjadi kurang.

  1. Kondisi lingkungan

Sering terjadi di daerah yang padang penduduknya dan lingkungan yang kurang bersih (seperti air yang menggenang dan gantungan baju di kamar).

  1. Pola kebiasaan
    1. Nutrisi dan metabolisme: frekuensi, jenis,pantangan,nafau makan berkurang, dan nafsu makan menurun.
    2. Eliminasi alvi (buang air besar). Kadang –kadang anak mengalami diare/konstipasi. Sementara DHF pada grade III-IVbisa terjadi milena.
    3. Eliminasi urin (buang air kecil) perlu dikaji apakah sering kencing, sedikit/banyak, sakit/tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria.
    4. Tidur dan istirahat. Anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami sakit/nyeri otot dan persendian sehingga kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya kurang.
    5. Kebersihan. Upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang nyamuk aedes aegyti
    6. Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk menjaga kesehatan.
    7. Pemeriksaan fisik, meliputi inspeksi,palpasi, auskultasi,dan perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan (grade) DHF, keadaan fisik anak adalah sebagai berikut:
      1. Grade I: kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, tanda-tanda vital dan nadi lemah.
      2. Grade II: kesadaran kompos mentis,keadaan umum lemah, ada pendarahan spontan petekia, pendarahan gusi dan telinga, serta nadi lemah, kecil, dan tidak teratur.
      3. Grade III: kesadaran apatis, somnolen, keadaan umum lemah, nadi lemah, kecil, dan tidak teratur.
      4. Grade IV: kesadaran koma, tanda-tanda vital: nadi tidak teraba, tensi tidak terukur, pernapasan tidak teratur, ekstremitas dingin, berkeringat, dan kulit tampak biru.
      5. Sistem integument:
        1. Adanya petekia pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat dingin, dan lembab.
        2. Kuku sianosis/tidak.
        3. Kepala dan leher.

Kepala terasa nyeri,muka tampak kemerahan karena demam (flusy),mata anemis,hidung kadang mengalami pendarahan (epistaksis) pada grade II,III,IV. Pada mulut didapatkan bashwa mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi, dan nyeri telan. Sementara tenggorokan mengalami hyperemia pharing dan terjadi perdarahan telinga (pada grade II,III,IV).

  1. Dada

Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada foto thorax terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura),  Rales, Ronchi yang biasanya terdapat pada grade III dan IV.

  1. Abdomen. Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegali), dan asites.
  2.  Ekstremitas. Akral dingin, serta terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.
  3. Pemeriksaan laboratorium

Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai:

  1. Hb dan PCV meningkat (>20%)
  2. Tranbositopenia (<100.000 / ml)
  3. Leucopenia (mungkin normal atau lekositosis)
  4. Ig.D.dengue positif
  5. Hasil pemeriksaan kimia darah mennjukkan: hipoproteinemia,hipokloremia,dan hiponatremia.
  6. Urium dan PH darah mungkin meningkat
  7. Asidosis metabolic: pCO2<35-40 mmHG dan HCO3 rendah
  8. SGOT/SGPT mungkin menungkat

 

 

  • Masalah/diagnosis

 

  1. Diagnose medis: dugaan(suspect)DHF
  2. masalah yang dapat ditemukan pada pasien DHF antara lain:
    1. peningkatan suhu tubuh(hipertermia)
    2. nyeri
    3. gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi,sehingga kurang dari kebutuhan.
    4. Potensial terjadi perdarahan intra abdominal.
    5. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
    6. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit,diet,dan perawatan pasien DHF.
    7. Gangguan aktivitas sehari-hari
    8. Potensial untuk terrjadinya reaksi transfuse

 

 

 

 

  • Perencanaan

 

  1. Peningkatan suhu tubuh
    1. Kajilah saat timbulnya demam
    2. Observasi tanda-tanda vital: suhu,nadi,tensi dan pernapasan setiap 3 jam atau lebih sering lagi
    3. Berikan penjelasan mengenai penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh.
    4. Berikan penjelasan kepada pasien/keluarga mengenai hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi demam
    5. Jelaskan pentingnya tirah baring bagi pasien dan akibatnya jika tidak dilakukan
    6. Anjurkan pasien untuk banyak minum
    7. Berikan kompres dingin pada daerah axial dan lipatan paha
    8. Anjurkan pasien tidak memakai selimut.
    9. Catatlah asupan dan keluaran cairan
    10. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter.

 

  1. Gangguan rasa nyaman nyeri:
    1. Kajilah tingkat nyeri yang dialami pasien
    2. Berikan posisi yang nyaman dan usahakan situasi yang tenang
    3. Berikan suasana yang gembira pada pasien
    4. Berikan pada pasien kese
    5. Berikan kesempatan untuk berkomunikasi dengan teman-temannya
    6. Berikan obat-obatan analgetik

 

  1. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi(kurang dari kebutuhan tubuh):
    1. Kajilah keluhan mual,sakit menelan,dan muntah yang dialami pasien
    2. Berikan makanan yang mudah ditelan
    3. Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering
    4. Jelaskan manfaat makanan
    5. Catatlah jumlah/porsi makanan yang habis oleh pasien setiap hari.

 

  1. Potensial terjadinya perdarahan lebih lanjut sehubungan dengan trombositopenia
    1. Monitor tanda penurunan trombosit
    2. Monitor jumlah trombosit setiap hari
    3. Berikan penjelasan mengenai pengaruh trombositopenia pada pasien
    4. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat

 

  1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
    1. Monitor keadaan umum pasien
    2. Observasi tanda-tanda vital setiap 2-3 jam
    3. Perhatikan keluhan pasien
    4. Apabila terjadi tanda-tanda syok hipovolemik,berikan pasien terlentang tanpa bantal.
    5. Pasang infuse dan berikan terapi cairan intravena jika terjadi perdarahan
  • Implementasi

 

  1. Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan
  • Mengobservasi tnda-tanda vital
  • Monitor tanda meningkatnya cairan
  • Mengobservasi dan mencatat intake dan output
  • Memberikan hidrasi yang adekuat
  • Memonitor nilai laboratorium
  • Memonitotor dan mencatat berat badan
  • Memonitor pemberian cairan melalui intravena
  1. Perfusi jaringan adekuat
  • Mengkaji dan mencatat tanda-tanda vital
  • Menilai kemungkinan terjadinya kematian
  1. Kebutuhan nutrisi adekuat
  • Ijinkan anak memakan makanan yang dapat ditoleransi anak
  • Berikan makanan yang disertai suplemen nurtisi
  • Menimbang berat badan setiap hari
  • Mempertahankan kebersihan mulut pasien
  • Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat
  1. Mempertahankan suhu tubuh normal
  • Ukur tanda-tandaa vital:suhu
  • Ajarkan keluarga dalam pengukuran suhu
  • Tingkatkan intake cairan
  • Berikan terapi untuk menurunkan suhu
  • Lakukan ‘tepid sponge’(seka)dengan air biasa

 

 

 

 

 

  • Evaluasi

 

Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur suatu perlakuan atau tindakan keperawatan terhadap pasien. Dimana evaluasi ini meliputi evaluasi formatif / evaluasi proses yang dilihat dari setiap selesai melakukan implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi sumatif / evaluasi hasil dibuat sesuai dengan tujuan yang dibuat mengacu pada kriteria hasil yang diharapkan.

Evaluasi :

  1. Suhu tubuh dalam batas normal.
  2. Intake dan out put kembali normal / seimbang.
  3.  Pemenuhan nutrisi yang adekuat.
  4.  Perdarahan tidak terjadi / teratasi.
  5.  Pengetahuan keluarga bertambah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

Kesimpulan

            Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk kedalam tubuh melalaui gigtan nyamuk aides aegypti.

Virus dengue masuk kedalam tubuh melalaui gigitan nyamuk aedes aegypti dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus antibody, dalam sirkulasi akan mengaktifkan system complement.

            Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya factor koagulasi (protombin, factor V,VII,IX,X dan fibrinogen) merupakan factor terjadinya perdarahan hebat, terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.

            Yang menentukan berat penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi,trombositopenia dan diathesis hemoragik. Renjatan terjadi secara akut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s